fia

fia

Jumat, 24 September 2010

KALIYOSO atau juga sering disebut KALIOSO


Meski hanya sebuah dukuh yang berada di Desa Jetiskarangpung, Kecamatan Kalijambe, nama Kaliyoso ternyata memilik sejarah panjang. Dukuh yang terletak sekitar 12 kilometer (km) dari Kota Solo itu ternyata merupakan tempat yang penting bagi raja Keraton Surakarta Hadiningrat 300 tahun lalu.
Bahkan, Paku Buwono (PB) IV sendiri yang memberikan nama itu.
Tokoh masyarakat setempat, Rohmat Dwi Basuki, menuturkan kepada Espos, belum lama ini, cerita masa lalu Kaliyoso yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dahulu kala, wilayah Kaliyoso berupa hutan yang dikenal dengan nama Jogopaten. Seorang santri bernama Bagus Turmudi memulai mendiami hutan atau alas Jogopaten.
Di lokasi itu dia banyak beribadah dan bermunajat kepada Allah, hingga akhirnya mendirikan pondok pesantren. Bagus kemudian lebih dikenal dengan nama Kiai Abdul Jalal, sesuai nama kakeknya.
Sekitar 1788, PB IV berburu ke hutan Krendowahono berada di sebelah selatan hutan Jogopaten, demi memenuhi keinginan sang permaisuri yang ngidam daging kijang. Saat berburu itulah, PB IV tiba-tiba menghilang. Para pengikut raja pun gusar. Berhari-hari mereka mencari sang raja ke segenah penjuru, namun PB IV tak juga ditemukan. Mengikuti saran penduduk setempat, para pengikut raja akhirnya meminta pertolongan Kiai Abdul Jalal. “Kiai meminta keponakannya bernama Bagus Murtoyo untuk mencari di mana sinuhun berada. Benar juga, kemudian raja ditemukan,” papar Rohmat, saat ditemui Espos, di kediamannya, belum lama ini.
Karena bantuan itu, PB IV menyampaikan terima kasih kepada Kiai Abdul Jalal. Ketika itulah, dalam kunjungannya ke Jogopaten, PB IV berujar, “Tempat ini sekarang saya namakan Kaliyoso.” Sejak kejadian itu, lokasi tersebut dikenal dengan nama Kaliyoso.
Selain memberikan nama Kaliyoso, PB IV juga memberikan hadiah kepada Kiai Abdul Jalal berupa mimbar, pintu masjid, serta benda-benda Keraton berupa tombak. Kini, pintu masjid hadiah PB IV masih digunakan di Masjid Jami’ Kaliyoso. Begitu pun mimbar hadiah sang rasa kondisinya masih bagus dan digunakan di masjid. Sedangkan, tombak yang dikenal dengan nama Kiai Ronda diletakkan di kayu usuk masjid tersebut. “Sampai kini barang-barang itu masih ada dan menjadi saksi sejarah leluhur dukuh ini. Juga menjadi kebanggaan kami sebagai warga Kaliyoso,” imbuh Rohmat.
Camat Kalijambe, Samsuri menyebut keberadaan Masjid Jami’ Kaliyoso sangat penting bagi masyarakat Kaliyoso, dan Kalijambe pada umumnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar